Kilas Dampak
Selama dua dekade terakhir, industri kelapa sawit memegang peran signifikan dalam perekonomian Indonesia. Kontribusinya tidak kecil: nilai ekspor minyak sawit pada 2024 diperkirakan mencapai sekitar US$23 miliar, menjadikannya salah satu penyumbang devisa terbesar setelah batu bara. Sektor ini juga menopang kehidupan lebih dari 16 juta pekerja, mulai dari petani kecil, buruh panen, hingga pekerja pabrik. Di sisi lain, data BPS menunjukkan bahwa sepanjang Januari-April 2025, ekspor CPO dan turunannya naik sebesar 20% menjadi US$ 7,05 miliar, angka ini menegaskan bahwa meski tantangan ada, sawit tetap menjadi komoditas ekspor penting. Fakta-fakta ini menunjukkan betapa strategisnya posisi sawit dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Titik Balik
Namun di tengah kontribusi tersebut, industri sawit menghadapi ancaman yang tidak bersifat fisik, melainkan naratif: public opinion warfare. Istilah ini mengacu pada upaya mempengaruhi persepsi publik melalui kampanye, framing, dan penyebaran informasi yang tidak selalu lengkap. Dalam konteks global, opini publik yang terbentuk secara negatif dapat memengaruhi keputusan pasar, sikap konsumen, bahkan kebijakan internasional seperti EU Deforestation Regulation (EUDR) yang mulai menekan akses produk sawit ke pasar Eropa.
Contohnya terlihat jelas pada hubungan Indonesia dan Uni Eropa. Tekanan naratif tentang deforestasi dan keberlanjutan menjadi alasan lahirnya aturan Eropan Union Deforestation Regulation (EUDR). Dampaknya terukur, menurut GAPKI, ekspor sawit Indonesia ke Uni Eropa turun dari 4,1 juta ton pada 2023 menjadi sekitar 3,3 juta ton pada 2024. Pangsa pasar Eropa juga turun dari 16,4% pada 2018 menjadi 12,6% pada 2022.
Bahkan Kementerian Pertanian memperkirakan potensi kerugian mencapai Rp 30-50 triliun per tahun apabila EUDR diterapkan penuh, karena Eropa masih menyerap sekitar 10% ekspor sawit Indonesia. Selain CPO, ekspor biodiesel ke Eropa juga makin sulit karena beban verifikasi dan pelacakan yang lebih ketat.
Baca Juga:
Mengapa public opinion warfare berbahaya bagi sawit dan mendesak direspon
Public opinion warfare bekerja melalui tiga mekanisme utama: (1) framing emosional yang cepat viral (deforestasi, satwa, emisi), (2) amplifikasi oleh media internasional dan NGO yang memiliki jaringan global, dan (3) kemudahan distribusi konten di media sosial sehingga kesan “konsensus moral” terbentuk meski data tak lengkap. Ketika opini publik berubah tajam, konsekuensinya bisa cepat: buyer pressure (brand boycotts), kebijakan impor yang diskriminatif, dan pengikatan modal asing tertunda. Sementara itu, dampak riil akan menyasar kelompok paling rentan seperti petani kecil, buruh tani, dan komunitas pedesaan yang menggantungkan hidup pada sawit. Lihat implikasi kebijakan EUDR dan gelombang respons bisnis di Eropa sebagai contoh nyata potensi gangguan pasar, selain itu juga ada kebijakan RED-Ⅱ (Renewable Energy Directive) yang sifatnya sangat diskriminatif terhadap industri sawit di indonesia.
Mengapa Narasi Pro-Sawit Sering Kalah Bertarung
- Narasi lawan lebih emosional dan mudah diterima public Narasi anti-sawit dibangun dengan cerita yang kuat secara visual dan emosional hutan terbakar, satwa yang terluka, atau perubahan iklim. Konten seperti ini mudah menjangkau simpati publik dan lebih cepat viral. Sementara narasi pro-sawit cenderung berbasis data, grafik, dan penjelasan teknis yang membutuhkan waktu untuk dipahami. Dalam ruang digital yang bergerak cepat, narasi emosional jelas lebih dominan.
- Suara pro-sawit terlalu teknis dan sulit dipahami masyarakat umum
Pelaku industri dan akademisi sering menyampaikan penjelasan menggunakan istilah teknis seperti yield, traceability, atau sertifikasi berkelanjutan. Bahasa seperti ini tidak mudah dicerna masyarakat awam, terutama generasi muda yang terbiasa dengan konten cepat dan sederhana. Akibatnya, pesan penting dari sektor sawit tidak sampai kepada publik dengan cara yang efektif. - Celah transparansi di lapangan dimanfaatkan untuk generalisasi negatif
Meski banyak praktik sawit berjalan baik, beberapa area yang belum ideal seperti sertifikasi yang belum merata atau produktivitas petani kecil yang rendah sering dijadikan contoh untuk menyudutkan keseluruhan industri. Kurangnya data lapangan yang terbuka membuat generalisasi ini sulit dibantah. Celah kecil digunakan untuk membuat narasi besar, dan publik mudah mempercayainya karena tidak memiliki gambaran utuh. - Minimnya kepemimpinan narasi dari generasi muda (voice leadership)
Dalam isu sawit, hampir tidak ada figur muda yang tampil sebagai penyambung informasi yang objektif dan komunikatif. Padahal generasi muda adalah kelompok yang paling aktif mengonsumsi dan menyebarkan informasi di media sosial. Ketika ruang narasi tidak diisi oleh mereka, maka narasi dari luar sering kali dengan kepentingan tertentu otomatis menjadi suara dominan. - Kurangnya pemahaman geopolitik membuat narasi global diterima tanpa kritis
Isu sawit sering dibingkai sebagai isu moral tentang lingkungan, padahal banyak kebijakan global terkait sawit berkaitan dengan persaingan dagang dan energi. Misalnya kebijakan EUDR, yang tidak hanya soal hutan, tetapi juga soal pengaturan akses pasar internasional. Tanpa pemahaman geopolitik, anak muda melihat semua kritik sebagai kebenaran objektif, padahal banyak narasi dibentuk oleh negara atau kelompok yang memiliki kepentingan ekonomi. Kesadaran geopolitik penting agar generasi muda tidak mudah menganggap “semua tampak baik-baik saja”, padahal realitasnya tidak sesederhana itu. - Pola pikir generasi muda yang cenderung reaktif, bukan antisipatif
Banyak generasi muda baru bersuara ketika masalah sudah menyentuh kehidupan mereka secara langsung ketika harga naik, ketika lapangan kerja menurun, atau ketika fasilitas publik terganggu. Padahal ancaman terhadap sawit, seperti tekanan opini publik atau kebijakan diskriminatif internasional, bekerja perlahan dan tidak terlihat. Sikap “menunggu sampai kena dulu baru peduli” membuat generasi muda rentan melewatkan ancaman besar yang datang dalam bentuk narasi, bukan bencana fisik. Dalam konteks sawit, pola pikir ini membuka ruang luas bagi opini publik yang keliru untuk tumbuh tanpa koreksi.
Kesadaran preventif bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati perlu ditanamkan agar generasi muda memahami bahwa menjaga narasi hari ini berarti menjaga stabilitas ekonomi esok hari.
Pesan Penutup
Sebagai generasi muda, kita tidak harus menutup mata terhadap masalah yang ada dalam industri. Perbaikan tetap diperlukan, terutama terkait praktik berkelanjutan dan transparansi. Namun kritik yang sehat membutuhkan data yang benar, bukan asumsi yang terbentuk dari potongan informasi. Meluruskan narasi bukan berarti memutihkan kesalahan, tetapi memastikan bahwa diskusi publik berjalan dengan proporsional, adil, dan berbasis bukti.
Urgensi untuk memahami public opinion warfare bukanlah agenda sektoral. Ini menyangkut ketahanan ekonomi, keberlanjutan energi, dan kehidupan petani kecil yang menggantungkan hidup pada sawit. Kesadaran ini penting agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam narasi yang belum diverifikasi, dan agar generasi muda mampu melihat isu secara lebih jernih.
Penulis: Mulyadi
Kepala Departemen Kajian & Advokasi
Daftar Puska:
- Badan Pusat Statistik (BPS). (2025). Statistik Ekspor Indonesia: Perkembangan Ekspor CPO dan Turunannya Januari–April 2025. Jakarta: BPS.
- Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI). (2024). Laporan Kinerja Industri Sawit Indonesia 2023–2024: Perkembangan Produksi, Ekspor, dan Tantangan Global. Jakarta: GAPKI.
- Bisnis Indonesia. (2025, 3 Juli). GAPKI Beberkan Dampak EUDR ke Industri Sawit RI. Diakses dari ekonomi.bisnis.com.
- Palmoil Analytics / Palmoilina Asia. (2023–2024). EU Deforestation-Free Regulation and Its Implications for Indonesia’s Palm Oil Market Share. Singapore: Palmoil Analytics.
- Kementerian Pertanian Republik Indonesia. (2024). Analisis Dampak EUDR terhadap Ekspor Sawit Indonesia. Jakarta: Kementan.
- Kumparan Bisnis. (2024). Kementan Prediksi Ekspor Sawit RI Boncos Rp 50 Triliun Jika EUDR Berlaku. Diakses dari kumparan.com.
- The Jakarta Post. (2024, 14 Maret). EU Deforestation Regulation Seen to Complicate RI Biodiesel Exports. Jakarta.
- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). (2024). Prospek Ekspor Biodiesel Indonesia di Tengah Regulasi Baru Uni Eropa. Jakarta: Kementerian ESDM.
- Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. (2024). Laporan Perdagangan Sawit dan Akses Pasar Internasional 2023–2024. Jakarta: Kemendag.



