Kampanye Sektor Perkebunan di Media Sosial Sudah Tidak Relevan

Perubahan Pola Opini Publik

Di era media sosial, opini publik tidak lagi dibentuk hanya oleh data, laporan keberlanjutan, atau konferensi pers korporasi. Persepsi masyarakat hari ini lebih banyak dibangun oleh emosi, pengalaman personal, dan narasi yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Inilah alasan mengapa banyak kampanye sektor perkebunan, khususnya kelapa sawit, mulai kehilangan efektivitas dalam menepis isu negatif di ruang digital.

Selama bertahun-tahun, komunikasi industri perkebunan cenderung bersifat formal, defensif, dan eksklusif. Kampanye dibangun menggunakan bahasa teknis seperti “sertifikasi berkelanjutan”, “green economy”, atau “net zero emission”, tetapi gagal menyentuh aspek emosional masyarakat. Akibatnya, publik melihat industri perkebunan sebagai entitas besar yang berbicara tentang dirinya sendiri, bukan tentang dampaknya terhadap manusia.

Demokratisasi informasi juga mengubah cara masyarakat merespons sebuah isu. Menurut laporan We Are Social melalui Katadata, jumlah pengguna media sosial di Indonesia mencapai sekitar 143 juta pengguna pada awal 2025. Besarnya jumlah pengguna tersebut membuat arus opini publik semakin sulit dikendalikan. Setiap individu memiliki akses informasi sekaligus kebebasan membangun narasi dan argumentasinya sendiri di ruang digital.

Baca Juga: Amerika Mensubsidi Kedelai Sementara Petani Sawit Indonesia Masih Menanggung Beban Sendiri

Kontribusi Sawit dan Realitas Persepsi Publik

Secara ekonomi, industri sawit memiliki kontribusi besar terhadap Indonesia. Data Kementerian Koordinator Perekonomian menunjukkan bahwa industri sawit menyerap sekitar 16,2 juta tenaga kerja. Selain itu, kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai sekitar 3,5%.

Tidak hanya itu, nilai ekspor sawit Indonesia juga mencapai lebih dari USD24 miliar per tahun. Angka tersebut menunjukkan bahwa sawit memang menjadi salah satu sektor penting bagi ekonomi nasional.

Namun demikian, besarnya kontribusi ekonomi tersebut tidak otomatis membentuk citra positif di media sosial. Mayoritas masyarakat digital tidak terlalu terhubung dengan angka makro ekonomi. Sebaliknya, mereka lebih mudah terhubung dengan cerita manusia dan dampak sosial yang nyata. Karena itu, banyak kampanye perkebunan gagal membangun kedekatan emosional dengan publik.

Baca Juga: Dua Harga yang Menentukan Nasib Biodisel Indonesia

Kampanye Lama Terlalu Korporatif

Sebagian besar kampanye sektor perkebunan masih menggunakan pola komunikasi yang sangat korporatif. Narasi yang ditampilkan biasanya berkaitan dengan seminar formal, laporan ESG, sertifikasi internasional, atau pencapaian institusi. Walaupun terlihat profesional, pendekatan seperti ini justru terasa jauh bagi masyarakat media sosial.

Di tengah kultur digital yang cepat dan emosional, publik tidak lagi tertarik hanya pada angka produksi atau penghargaan perusahaan. Sebaliknya, masyarakat lebih tertarik pada cerita kehidupan manusia. Mereka lebih mudah terhubung dengan kisah pekerja kebun, perjuangan petani kecil, atau perubahan ekonomi desa.

Akibatnya, ketika industri terlalu sibuk berbicara tentang institusi, masyarakat justru merasa tidak memiliki kedekatan emosional dengan pesan yang disampaikan. Industri terlihat besar, tetapi terasa jauh dari kehidupan sehari-hari publik.

Fenomena ini diperkuat oleh penelitian analisis sentimen publik terhadap pembukaan kebun sawit di Papua yang menganalisis 1.355 percakapan di Twitter/X menggunakan machine learning. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa opini publik di media sosial lebih banyak dipengaruhi oleh emosi dibanding fakta teknis semata.

Karena itu, satu video singkat tentang kerusakan lingkungan sering kali jauh lebih viral dibanding laporan keberlanjutan perusahaan yang panjang dan formal. Dengan kata lain, media sosial bekerja dengan logika yang berbeda. Kedekatan emosional sering kali lebih kuat dibanding kekuatan data.

Baca Juga: Membaca Dampak Konflik Timur Tengah Terhadap Komoditas Perkebunan Dunia

Industri Terlalu Fokus Membela Diri

Kelemahan terbesar kampanye perkebunan adalah terlalu fokus membela industri, bukan membangun hubungan sosial dengan masyarakat. Narasi yang terus diulang biasanya berkaitan dengan besarnya kontribusi sawit terhadap negara, mulai dari penyumbang devisa, penyerap jutaan tenaga kerja, hingga penopang ekonomi nasional.

Semua itu memang benar secara data. Namun publik media sosial tidak hanya bertanya seberapa besar kontribusi industri terhadap negara, tetapi juga ingin mengetahui dampaknya terhadap kehidupan manusia di sekitar mereka.

Inilah alasan banyak kampanye gagal membangun empati publik. Industri terlalu sibuk menjelaskan pentingnya sawit bagi ekonomi nasional, sementara masyarakat ingin melihat apakah industri benar-benar membawa perubahan nyata bagi kehidupan sosial di tingkat akar rumput.

Penelitian mengenai persepsi masyarakat terhadap perusahaan sawit di Papua Barat menunjukkan bahwa penerimaan masyarakat terhadap industri jauh lebih tinggi ketika mereka merasakan manfaat sosial dan ekonomi secara langsung. Temuan ini memperlihatkan bahwa legitimasi sosial tidak dibangun melalui slogan keberlanjutan semata, tetapi melalui pengalaman nyata masyarakat.

Perubahan pola pikir ini semakin terlihat di era media sosial. Kredibilitas tidak lagi hanya berasal dari institusi resmi atau pernyataan formal perusahaan. Masyarakat lebih mempercayai konten yang terasa autentik, pengalaman nyata, dan cerita yang lebih manusiawi.

Karena itu, kampanye yang hanya menampilkan pejabat perusahaan, ruang konferensi, atau bahasa formal korporasi mulai kehilangan relevansi di mata generasi muda digital. Publik tidak hanya ingin mendengar bahwa industri berhasil, tetapi ingin melihat siapa yang benar-benar merasakan keberhasilan tersebut.

Humanisasi Industri sebagai Formulasi Baru

Jika sektor perkebunan ingin memenangkan opini publik, maka strategi komunikasinya harus berubah. Media sosial telah mengubah cara masyarakat membangun kepercayaan. Publik tidak lagi mudah tersentuh oleh slogan korporasi. Sebaliknya, mereka lebih tertarik pada sesuatu yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Karena itu, kampanye perkebunan perlu bergerak menuju pendekatan yang lebih manusiawi. Fokus komunikasi tidak lagi hanya memperlihatkan perusahaan sebagai institusi besar, tetapi juga memperlihatkan manusia yang hidup di dalam ekosistem industri tersebut.

Misalnya, narasi kampanye dapat diarahkan pada kehidupan petani muda, pekerja lapangan, keluarga sekitar kebun, atau UMKM lokal yang berkembang karena aktivitas perkebunan. Cerita tentang anak buruh kebun yang berhasil melanjutkan pendidikan akan jauh lebih mudah membangun empati dibanding informasi mengenai sertifikasi perusahaan.

Selain itu, pendekatan komunikasi baru juga harus menampilkan dampak nyata secara konkret. Kampanye akan lebih kredibel apabila menunjukkan data sosial secara langsung, seperti jumlah desa yang memperoleh akses infrastruktur atau jumlah siswa penerima beasiswa.

Di sisi lain, transparansi juga menjadi faktor penting dalam membangun legitimasi sosial. Publik media sosial sangat sensitif terhadap pencitraan yang terlalu sempurna. Oleh sebab itu, industri perlu mulai menunjukkan proses perbaikan dan membuka ruang dialog dengan masyarakat.

Lebih lanjut, kampanye modern tidak cukup hanya mengandalkan influencer besar atau figur formal perusahaan. Sebaliknya, tokoh masyarakat lokal, petani kecil, dan generasi muda sekitar perkebunan justru lebih dipercaya karena dianggap lebih dekat dengan realitas sosial.

Baca Juga: Telisik Masa Depan Sawit Indonesia

Kesimpulan

Industri perkebunan memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Namun, di era media sosial, kekuatan data saja tidak cukup untuk memenangkan opini publik.

Kampanye lama mulai kehilangan relevansi karena terlalu formal, defensif, dan eksklusif. Selain itu, pendekatan tersebut gagal membangun kedekatan emosional dengan masyarakat.

Padahal, media sosial bekerja dengan logika yang berbeda. Publik lebih mudah percaya pada pengalaman dibanding slogan. Mereka juga lebih terhubung dengan manusia dibanding institusi.

Karena itu, sektor perkebunan membutuhkan formulasi komunikasi baru yang lebih manusiawi, lebih transparan, dan lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Dengan pendekatan seperti ini, industri tidak hanya membangun citra positif, tetapi juga membangun hubungan sosial yang lebih kuat dengan publik digital.

 

Penulis: Mulyadi
Kepala Departemen Kajian & Advokasi BPP APMI

Pustaka:
  1. Adi Ahdiat. 2025. Pengguna Media Sosial di Indonesia Bertambah Awal 2025. Databoks Katadata. Diakses dari:
    Databoks Katadata – Pengguna Media Sosial Indonesia 2025
  2. Adi Ahdiat. 2026. 10 Media Sosial Paling Banyak Digunakan di Indonesia Kuartal II 2025. Databoks Katadata. Diakses dari:
    Databoks Katadata – Media Sosial Paling Banyak Digunakan 2025
  3. Antara News. 2021. Industri Kelapa Sawit Serap 16,2 Juta Lapangan Kerja. Medcom.id. Diakses dari:
    Medcom – Industri Sawit Serap 16,2 Juta Lapangan Kerja
  4. id. 2023. Menko Perekonomian Klaim Sawit Serap 16,2 Juta Tenaga Kerja. Diakses dari:
    Sawitku – Sawit Serap 16,2 Juta Tenaga Kerja
  5. Saputra, Muhammad Apriandito Arya, dkk. 2026. SocialX: A Modular Platform for Multi-Source Big Data Research in Indonesia. arXiv. Diakses dari:
    arXiv – SocialX Big Data Research Indonesia
  6. Abdillah, Leon Andretti. 2014. Social Media as Political Party Campaign in Indonesia. arXiv. Diakses dari:
    arXiv – Social Media as Political Campaign in Indonesia
  7. Abdillah, Leon Andretti. 2014. IT Based Social Media Impacts on Indonesian General Legislative Elections 2014. arXiv. Diakses dari:
    arXiv – Dampak Media Sosial pada Kampanye Politik Indonesia
  8. Malhotra, Anshu, dkk. 2013. Studying User Footprints in Different Online Social Networks. arXiv. Diakses dari:
    arXiv – User Footprints in Online Social Networks
  9. IRPI Journal. 2024. Analisis Sentimen Publik terhadap Pembukaan Kebun Sawit di Papua Menggunakan Machine Learning. Diakses dari jurnal penelitian terkait analisis percakapan media sosial mengenai isu sawit.

Tags

Berita Terkini

Presented By

Hubungi Kami

Sekretariat BPP APMI:
Jl. Garuda No.10, Malangrejo, Wedomartani, Kec. Ngemplak, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kode Pos: 55584
Telepon : +62 822 - 2132 - 1502
E-Mail : plantersmuda.id@gmail.com

Asosiasi Planters Muda Indonesia

Made By Departemen IT Developer - APMI