Siapa yang akan Memanen Sawit Tahun 2045?

 

Persoalan awal

Indonesia hari ini khawatir terhadap harga dan produktivitas sawit, tetapi lupa bertanya satu hal penting: siapa yang akan mengelola dan memanen sawit Indonesia dua puluh tahun mendatang?

Indonesia sebagai bangsa besar bercita-cita menjadi pusat koridor industri kelapa sawit hingga tahun 2045. Berbagai strategi disiapkan, mulai dari hilirisasi, digitalisasi, hingga penguatan energi baru terbarukan berbasis biodiesel. Namun di tengah romantisasi dan optimisme itu, ada satu pertanyaan sederhana yang jarang dibahas: siapa yang akan memanen sawit Indonesia pada tahun 2045?

Pertanyaan ini mungkin terdengar sangat sepele. Namun justru di situlah letak persoalannya. Kita terlalu sibuk membicarakan harga, teknologi dan produktivitas, tetapi lupa membicarakan “manusia” yang menjalankan keduanya.

Generasi perkebunan sedang menua

Berdasarkan studi dari Instiper Jogja (2023) tingkat turnover pemanen tertinggi terjadi pada tahun 2020 sebesar 44.40% dan mengalami penurunan yang signifikan di tahun 2022 sebesar 0.46%. Data ini menunjukan bahwa industri ini memiliki masalah serius. Perkebunan kelapa sawit hari ini sangat-sangat di dominasi oleh pemanen senior, mandor senior serta asisten senior dan banyak tenaga lapangan yang sudah mendekati masa pensiun.

Anak muda tidak lagi melihat perkebunan sebagai masa depan

Pemuda tidak melihat perkebunan sebagai masa depan bukan karena malas. Tetapi ada sebuah pergeseran budaya, urbanisasi, digitalisasi dan persepsi profesi. Budaya gen Z hari ini adalah serba cepat dan instan sangat berbeda ketika gen Z  hari ini yang lahir di perkotaan dan di desa melihat perkebunan. Anak muda yang kita sebut gen Z sudah bertumbuh dengan internet, start up maju, pekerjaan fleksibel, kerjaan remote dan ekonomi kreatif. Sementara perkebunan itu berada di daerah-daerah terpencil, susah sinyal, tingkat displin tinggi dan target produksi tinggi. Artinya ini anak muda tidak lagi melihat masa depan di perkebunan.

Surplus sarjana, defisit pelaksana

Setiap tahun kampus menghasilkan lulusan agribisnis, agroteknologi, dan jurusan perkebunan lainnya dalam jumlah yang tidak sedikit. Namun perusahaan justru mengalami kesulitan mencari pemanen. Kita sedang menghadapi paradoks baru: surplus tenaga terdidik, tetapi defisit tenaga pelaksana. Kemudian bagaimana kita bisa bicara tentang dominasi industri kelapa sawit jika hari ini kita masih memiliki masalah sangat dasar yaitu kekurangan karyawan pemanen.

Ini cukup menjadi diskursus bersama bagi kita yang berkecimpung di perkebunan kelapa sawit, dan ini juga menjadi tanggung jawab moral bagi anak-anak muda yang hari ini menjadi tonggak estafet kepemimpinan yang lahir dari program beasiswa sdm kelapa sawit yang di inisiasi oleh badan pengelola dana perkebunan.

Sejak tahun 2016 BPDP sudah bekerja sama dengan 42 lembaga penyelenggara pendidikan, 13.265 total penerima manfaat beasiswa dan 4.975 total penerima manfaat beasiswa yang telah selesai didanai. Namun apakah sudah menjadi jawaban bagi persoalan dasar ini? Siapa yang akan memanen sawit tahun 2045 yang akan mendatang?

Selama ini kita mengukur kemajuan perkebunan dari jumlah produksi dan luas lahan. Padahal ukuran yang lebih penting mungkin adalah kemampuan industri mempertahankan manusianya. Sebab pohon sawit dapat bertahan puluhan tahun, tetapi tidak ada satu pohon pun yang mampu memanen dirinya sendiri.

Penutup 

Ketika Indonesia berbicara tentang Indonesia Emas 2045, industri sawit juga harus mulai bertanya tentang masa depannya sendiri. Bukan hanya tentang berapa ton CPO yang akan dihasilkan, tetapi tentang siapa yang akan berdiri di bawah terik matahari, memanen tandan buah segar, dan menjaga keberlanjutan industri ini. Karena pada akhirnya, krisis terbesar perkebunan bukanlah kekurangan lahan atau teknologi, melainkan kekurangan manusia yang bersedia mengabdikan hidupnya di dalamnya.

Penulis: Iqbal Ade Via 
Pustaka:

https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/474 

 

Tags

Berita Terkini

Presented By

Hubungi Kami

Sekretariat BPP APMI:
Jl. Garuda No.10, Malangrejo, Wedomartani, Kec. Ngemplak, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kode Pos: 55584
Telepon : +62 822 - 2132 - 1502
E-Mail : plantersmuda.id@gmail.com

Asosiasi Planters Muda Indonesia

Made By Departemen IT Developer - APMI